BERJUMPA DENGAN HIMALAYA (PART 4)

Part ini akan jadi part paling menyenangkan! Percayalah kalian pasti akan ngiler liat pemandangannya nyehehe. Melanjutkan part sebelumnya, Rani akan melakukan aklimatisasi lagi di Dingboche. Karena sebentar lagi Rani dan tim akan sampai di ketinggian 5000 MDPL. Jadi persiapan tubuh kudu wajib dilakukan. Aklimatisasinya gak selelah dan separah yang Rani lakukan di Namche waktu itu. Entahlah tubuh Rani yang sudah menyesuaikan dengan pendakian ini atau memang jalur yang lebih bersahabat. Sampai di tempat aklimatisasi ada sesuatu yang menarik perhatian mata Rani. Tumpukan batu!

2018_0328_12385300

Batu penunjuk arah. Kira-kira dibuat oleh berapa pendaki yah?

Tumpukan batu ini ada di sepanjang puncak bukit aklimatisasi. Tingginya bervariasi ada tumpukan batu kecil dan ada tumpukan batu besar. Ternyata kata pemanduku, tumpukan batu ini dibuat oleh para pendaki yang kesini. Satu pendaki meletakkan satu tumpuk batu. Lama-lama jadi tinggi deh tumpukannya. Fungsinya apa? Sebagai penunjuk arah waktu jalan tertutup salju saat musim dingin. EAAA kreatif amat yaaak. Jadi pendaki gak akan nyasar ke jalan yang salah gitu. Nyasar di jalan raya aja panik, apa kabar nyasar di gunung es ya kan. Amit amit jangan sampe deh.

2018_0328_12264900.jpg

Gak mau kalah, tim ku buat juga haha

2018_0328_12281100.jpg

Pemandangan saat aklimatisasi

Selesai aklimatisasi, Rani santai di ruang makan. Tepatnya sih menghangatkan diri karena di kamar dinginnya setengah mati. Penghangat di ruang makan ini bahan bakarnya unik loh. Bukan pake bensin atau bara api, tapi pake kotoran Yak. Hem untungnya gak bau sih. Kalaupun bau ku tetap akan memilih nongkrong di ruangan ini daripada menggigil di luar sana. Kemudian beberapa saat kemudian keajaiban terjadi tring tringggggg salju turuuunnn!!!!! Asik saljuuu. Norak dong yaah, langsung semua pada keluar. Et dah udah lupa tuh semuanya sama dingin yang mengancam hahaha. Sejujurnya tim ini sedang butuh hiburan diluar pekerjaan, jadi lihat salju adalah kebahagiaan yang hakiki buat kita. Hehehehe

2018_0328_22062500.jpg

Sekarang mikir, waktu itu kok girang amat ya

Selesai main salju, Rani tidur. Perjalanan besok akan jadi perjalanan yang panjang. Pagi-pagi waktu Rani bangun dan keluar kamar, aku langsung melongo segede gedenya. Seluruh desa tertutup sama salju! Oh so magical. Ini bukan pengalaman pertamaku dengan salju tapi salju yang kali ini bener-bener indah banget serius! Rasanya tuh kaya lagi ada di desa yang ada di dalam film dongeng. Langsung dong ku nyanyi lagunya Cinderella dili dili huooo. Rani emang super beruntung, karena seharusnya saat itu salju udah gak turun lagi karena sudah masuk musim semi. Tapi kayanya dia mau nyapa aku deh makanya nongol. Yess.

DSC01272.JPG

Pemandangan desa pagi itu

DSC01301.JPG

Mendaki jadi super semangat!

DSC01306.JPG

Gils, Yak nya fashionable abis

Hal menyenangkan lainnya adalah cuaca jadi lebih hangat dibandingkan waktu gak ada salju sama sekali. Mataharinya  bersinar terang benderang di sepanjang perjalanan, gak ada angin dan sepanjang mata memandang semuanya putih. Nikmat mana lagi yang kau dustai kalau kata anak masa kini. Pemandangan ini menemani perjalanan Rani sampai ke tempat makan siang di Tukla. Nah pendakian setelah Tukla kembali penuh dengan drama angin yang kencang. Mental diuji lagi cooyy. Yo yo ayoo yo ayoo yo yo yo ayoo lanjut gak boleh menyerah tetap semangat semuanyaah.

2018_0329_11022000.jpg

Jalur pendakianku saat itu

2018_0329_12033800.jpg

Asal jepret bagus kaann

2018_0329_10330900.jpg

Blue sky white snow. Complete.

Sampai ke puncak Tukla, Rani lihat banyak monumen-monumen penghormatan untuk para pendaki yang meninggal saat mereka mencoba mendaki Everest. Ada satu monumen yang buat hati Rani miris sekali. Monumen itu milik anak kecil usia 4 tahun dari Korea. Ku gak kebayang perjuangan anak sekecil ini selama mendaki. Apa ya yang dia rasain saat itu hem. Ada juga monumen peringatan untuk Scott Fischer! Kalau kalian pernah nonton Everest pasti tahu tentang beliau ini. Disini ada lebih dari 30 monumen peringatan. Mereka yang mendedikasikan hidupnya untuk mendaki puncak tertinggi dunia. Respect.

2018_0329_16130700.jpg

Monumen Scott Fischer

Dari puncak Tukla perjalanan kurang lebih 2 jam lagi menuju ke Lobuche. Baiklah Rani sejujurnya mulai mabok sama per che che an ini. Semua desa belakangnya pake che haha. Sambil ngetik ini tuh Rani sambil bingung tau che mana yang harus kutulis, jangan sampe ketuker hahaha. Anyway, che ini ternyata artinya adalah puncak.

2018_0329_15495800

Puncak Tukla

Lobuche jadi desa terakhir yang akan jadi tempat menginap Rani sebelum menuju ke Everest Basecamp. Total udah seminggu nih Rani gak mandi, jadi di Lobuche rencananya mau mandi air hangat. Yap, di sepanjang pendakian tuh bisa mandi sebenernya tapi harus bayar. Makin tinggi daerahnya, makin mahal bayarnya. Untuk mandi di Lobuche ku harus bayar $5 atau sekitar 90 ribu rupiah. Mahal 😦 . Waktu Rani bilang ke pemandu kalau aku pengen mandi, ternyata gak dibolehin dong. Kata dia di ketinggian seperti sekarang udah gak boleh untuk mandi, nanti bisa flu katanye. Eh bang buset dah kesel bener nih aye dengernye. Ketek udah semriwing tapi gak dibolehin mandi.

2018_0329_15560700.jpg

Perjalanan menuju Lobuche

2018_0329_16481800.jpg

Salju mulai menipis lagi. Still beautifuulll

2018_0329_22150900.jpg

Ini cameraman ku. Lelah banget nh bos.

Selain mandi, koneksi internet juga selalu tersedia di penginapan. Cuma ya gitu, semakin tinggi wifi semakin terbatas. Jadi kita bisa beli vocher wifi seharga 40 ribu rupiah untuk 600MB. Rani beli dong. Masukin kode yang tertera di voucher dan on! Notification masuk teruus menerus dan akhirnya sebelum aku sempat melakukan apa-apa..kuota habis. Paaiiiitt paiiitt. Udahlah ku kesal ku tidur saja hahaha. Sampai ketemu di part berikutnya! Part dimana Rani akan sampai di Everest Basecamp! Perjalanannya gimana kesana? Ditunggu yaa.

Patricia Ranieta pamit! Stay awesome fellas!

9 thoughts on “BERJUMPA DENGAN HIMALAYA (PART 4)

  1. Bahasanya enak sekali diterima. Gak usah mikir. Cuma baca sambil ngebayangin aja. Uda gtu ngomong2 itu arti surat Ar-Rahman yang dibilang kekinian. Jadi penasaran sama blog selanjutnya.. Semangat kak rani nulisnya.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s