BERJUMPA DENGAN HIMALAYA (PART 3)

Perjalanan menuju ke Everest Basecamp belum separuh jalan. Masih panjang sekali perjuangannya. Disinilah Rani ngerasa mental mulai diuji. Puji Tuhan sejauh ini badan Rani masih sehat dan selalu mau bekerjasama. Fokus dan suasana hati yang gak menentu, jadi tantangan saat ini. Beh rasanya nih ye suasana hati kaya lagi PMS. Maunya ngamuk sama senggol bacok karena cape. Apalagi nih ye pemirsa yang budiman, aku orangnya emang galak. Tapi ya gak boleh gitu, karena yang lain juga ngalamin kelelahan yang sama. Jadi harus kontrol diri. Yuk mari kita narik napas huh hah huh hah.

2018_0326_11145400-01.jpeg

Hayoo ada yang bisa menemukan kuil kecilnya?

Dari Namche, Rani lanjut ke Tengboche. Perjalanan diperkirakan 7-8 jam. Mari kita aminkan agar waktu target bisa menjadi kenyataan. AMIIIN. Nah disini landscape nya udah mulai beda. Hamparan pohon-pohon dan gunung-gunung Himalaya tetap jadi teman perjalanan, tapi jalur pendakian sudah lebih luas dan lebar. Astaga mimpi apa yak semalem, dari mau marah-marah langsung gak jadi gitu haha. Di sepanjang perjalanan ini Rani sering nemuin kuil kecil tempat masyarakat sering mampir dan berdoa. Bendera warna warni udah fix banget jadi ciri khas. Pada ketinggian ini, Rani juga udah bisa jumpa dengan hewan endemik Himalaya! Siapa lagi kalau bukan Yak! Uuhh lucuu rasanya pengen peluk. Yang bikin Rani makin gemas, hewan ini terlihat hangat sekali haha. Yak cuma bisa hidup diatas ketinggian 3500 MDPL. Sayangnya dia jadi gak bisa dibawa ke Indonesia.

2018_0326_11240100-01.jpeg

Konon gunung di ujung belakang adalah Everest!

2018_0327_15030900.jpg

OLA YAK!

2018_0326_11474300-01.jpeg

Pemandangan di sepanjang pendakian menuju Tengboche

2018_0327_11324300-01.jpeg

Feel freeeee

Perjalanan ke Tengboche berat sekali untukku entah kenapa. Beneran deh beberapa orang bilang perjalanan lebih santai untuk mereka, tapi entah kenapa gak gitu untukku. Inilah kenapa mental dan semangat tuh jadi hal yang utama banget. Kita harus bisa cari cara untuk menyemangati diri sendiri. Rani juga sering papasan sama porter yang bawa barang bawaan super berat! Dua kali lebih berat dari berat mereka sendiri. Gila banget sih, masa Rani ketemu porter yang bawa tabung gas. Dia jalan enam jam dengan beban yang super berat dari kampungnya menuju Tengboche. Tertegun udah pasti, mau ngeluh rasanya kok malu yah.

2018_0325_15185100.jpg

Pemandangan porter di sepanjang jalur pendakian

Tengboche berada di ketingian 3867 MDPL. Cuaca nya udah pasti bertambah dua kali lipat dinginnya. Disini ada kuil yang besar banget. Seringkali wisatawan menjadikan kuil ini sebagai tujuan mereka. Rani nginep satu malam aja di Tengboche. Keesokan hari, Rani langsung lanjut ke Dingboche. Perjalanan hari itu jadi salah satu perjalanan favorit di sepanjang jalur menuju ke Everest Basecamp. Pertama, Rani udah berhasil menyemangati diri sendiri dan kembali ceria. Kedua adalah pemandangannya! Rani gak bisa deskripsiin dengan kata-kata karena seindah itu. Cuaca saat itu berangin dan dingin banget, tapi gak berasa karena Rani bener-bener nikmatin setiap detiknya. Sampe mau teriak saking senangnya. Tapi takut ganggu, kan suaraku cempreng. Baik. Hahaha.

2018_0327_09471800-01

Finally Tengboche!

2018_0401_11585400-01

Bagian depan kuil

2018_0401_11583800-01.jpeg

Penginapan Rani di Tengboche

Dingboche terletak di ketinggian 4410 MDPL! Mari kita teriakaann! Yap aku norak karena ini pengalaman pertama sampe ke ketinggian yang lebih dari 4000 MDPL. Yasalam gapapa kan ku girang, mengingat Bekasi tuh gak ada MDPL MDPL gitu kan hahaha. Pada ketinggian ini Rani udah harus semakin hati-hati dan rajin minum air putih. Saat-saat kaya gini, manusia udah rentan terkena AMS (Accute Mountain Sickness) atau penyakit ketinggian. Intinya semakin tinggi daerahnya, semakin tipis pula kadar oksigennya kan. Jadi badan kita bisa super kaget karena gak terbiasa. AMS ada beberapa tahap. Tahap pertama mual-mual dan sakit kepala. Tahap selanjutnya penderita bisa sampai muntah-muntah. Tahap terakhir, penderita bisa kehilangan nyawa. Hem serem kan. Jadi jangan main-main. Minum banyak air putih itu wajib!

2018_0327_10531400-01.jpeg

Love at the first sight

2018_0327_11582600-01.jpeg

Kenapa bocah Nepal tuh gemes-gemes amat yak

2018_0327_15383800-01

Beautiful isn’t it?

2018_0327_16061500(2)-01.jpeg

Sesampainya di penginapan Rani dan tim dikenalin sama alat yang namanya Portable Altitude Chamber. Alat ini adalah alat pertolongan pertama kalau seseorang kena AMS. Biasanya penderita akan masuk ke dalamnya selama lima jam penuh. Di dalam sana, dia akan diberikan asupan oksigen terus menerus. Tapi inget loh ya ini cuma pertolongan pertama. Sambil dirawat di dalam PAC, helikopter dan tim dokter tetep harus dipanggil. Iyap, pada ketinggian ini kalau sakit parah ya harus diangkut pake helikopter. Selama berada di dalam PAC, pasien wajib terus diajak ngobrol supaya dia tetap sadar. Selain dikenalkan sama alat ini, Rani juga di cek tekanan darah dan kadar oksigen dalam tubuh. Hasilnya, tekanan darahku tinggi sekalee. Mohon maap entahlah mengapa. Masa kata guide nya gara-gara kebanyakan ketawa (aneh banget alasannya hahaha)

screen-shot-2018-08-10-at-11-33-22-pm.png

Ini dia PAC. Dibuat untuk ukuran satu orang

screen-shot-2018-08-10-at-11-34-29-pm.png

Alat pengukur tekanan darah dan kadar oksigen. Dijepit gitu ke jari

Rani akan menghabiskan waktu dua hari di Dingboche. Aklimatisasi akan kulakukan lagi disini. Bukit-bukit tinggi di sekitar desa akan jadi tujuannya. Yeah. Mari semangat untuk pendakian yang lebih baik lagi. Pssttt ada yang menarik loh di aklimatisasi kali ini. Tapi sabar yah! Tunggu di tulisan berikutnya hehehe.

Patricia Ranieta pamit! Stay awesome fellas!

3 thoughts on “BERJUMPA DENGAN HIMALAYA (PART 3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s