BERJUMPA DENGAN HIMALAYA (PART 2)

Perjalanan Rani di hari kedua berlanjut ke Namche. Nah kalau kata guide Rani si, perjalanan menuju ke Namche adalah salah satu perjalanan yang “besar”. Jarak tempuh Pakdhing-Namche kurang lebih 7 jam. Itu kalo pendaki biasa loh yaa. Karena Rani sambil liputan pasti proses perjalanan berlangsung lebih lama dari jadwal normal. Baik aku gak akan bilang sama kaki tentang kenyataan ini. Semoga si kaki gak sadar dan semoga dia mau diajak bekerjasama. Yuk mulai jalan! 😀

2018_0324_15091100.jpg

Gimana? mirip wallpaper laptop ga?

Perjalanan lanjut dan Rani gak bosen-bosen sih sama pemandangannya. Sungai disini warnanya biru bening indah sekali trililiiii. Rani juga sering ketemu sama rombongan jobkyo yang bawa barang kebutuhan masyarakat dari kota. Jobkyo ini ada persilangan antara yak dan sapi. Jadi dia tenaga nya kuat kaya sapi tapi bisa tinggal di dataran rendah seperti sapi. Kalau bentuknya kaya sapı kelebihan bulu hohoho.

2018_0326_10230700-02.jpeg

Holaa! Aku Jobkyo. Mamaku sapi dan Papaku yak

Kita juga ngelewatin banyak banget jembatan gantung. Sampai akhirnya Rani sampai juga di jembatan gantung terpanjang dan tertinggi di jalur pendakian Everest Basecamp. Jembatan ini namanya Hillary Bridge. Panjang jembatannya 130 meter loh. Nah buat kalian yang ngeri-ngeri gimana sama ketinggian kayanya akan merinding sedap pas ngelewatinnya. Apalagi semakin banyak yang lewat diatasnya, semakin goyang deh jembatannya. Hem kaya pesta dangdut. Rani menghabiskan waktu lama disini buat foto-foto dan liputan hahaha. Jadi gak berasa tiba-tiba udah jam 5 sore aja. Guide kita udah super bawel banget suruh kita jalan karena kita udah melebihi waktu target sampai. Ku kesal rasanya pengen ngomong “Eh bang dikate liputan bisa sembarang ambil gambar ape, kaga sabaran banget dah”. Tapi yasudah akhirnya kita jalan demi kebaikan dan ketentraman hati bersama.

2018_0324_15464400

View jembatan gantung

2018_0324_16252000.jpg

Melintasi Hillary Bridge

Dari jembatan ini baru track cihuy kutemui! Nanjak gak pake bonus. Medannya berpasir jadi agak berat jalannya. Siapin masker jangan lupa kalau lewat jalur kaya gini yaah. Kebetulan Rani gak bawa haha, jadi bersin-bersin terus karena si debu masuk hidung haha. Dari jembatan, jarak ke Namche kurang lebih 2 jam lagi. Akhirnya Rani baru sampai di Namche jam 7 malam. Total 10 jam perjalanan. Namche ini berada di ketinggian 3440 MDPL. Guide ku ngomel karena katanya dia gak pernah jalan selama itu sepanjang masa kariernya. Aku kalo lagi kesel sama dia suka bales ngomel pake bahasa Indonesia hahaha, kan dia jadi gak paham hahaha. Kita pun istirahat dan siap explore Namche besok.

2018_0324_16571000.jpg

Track setelah Hillary Bridge

2018_0324_17014500.jpg

Ayoo semangat maak

2018_0324_19180600.jpg

Finally! NAMCHEEE

2018_0325_09040800.jpg

Ruang makan di penginapan

Pagi hari di Namche itu uh so wow. Pas keluar dari penginapan, gunung es langsung jadi pemandangan. AAAA orang yang tinggal disini beruntung sekaliiii. Rani langsung pergi ke Sherpa Museum. Sherpa ini adalah salah satu marga di Nepal. Kalo di Indonesia sama aja kaya Hasibuan, Tampubolon, Wijaya dll. Nah rata-rata orang yang bermarga Sherpa ini berprofesi sebagai porter. Jadi gak heran kalau lama-lama orang nganggepnya porter itu sama dengan Sherpa hohoho. Di Sherpa Museum ada patung besar Tenzing Norgay. Beliau ini adalah Sherpa pertama yang sampai ke puncak Everest. Jadi beliau amat sangat dihargai dan dihormati banget sama masyarakat disini dan di berbagai belahan dunia.

2018_0325_10172700.jpg

Pemandangan diluar penginapan

2018_0325_11081900.jpg

Patung Tenzing Norgay di Sherpa Museum

Setelah ke Sherpa Museum, Rani lanjut aklimatisasi. Apa itu? Intinya penyesuaian tubuh dengan suhu dingin dan ketinggian. Tubuh kita gak boleh dipaksa untuk langsung naik ke ketinggian tertentu karena kita kan terbiasa untuk tinggal di ketinggian yang sama dengan laut, jadi butuh pengenalan medan lagi. Rani naik ke ketinggian 3880 MDPL untuk aklimatisasi. Entah kenapa track aklimatisasi ini lebih kejam daripada ibu tiri. Tanjakannya curam sekalee. Rani gak mau lihat atas. Kalau lihat atas semakin jelas tanjakannya. Sakit hati. Oh tidak mau. Setelah 3 jam pendakian sampailah Rani di titik akhir aklimatisasi yaitu Hotel Everest View. Salah satu hotel tertinggi di dunia! Nginep disini mahal bener tshaay. Aku kasih clue yah, per malemnya diatas 5 juta kalo gak salah. Jadi aku kesana cuma buat minum  cokelat panas aja yang harganya juga mahal hiks hahaha. Yang bikin mahal itu pemandangannya. Kita bisa lihat puncak Everest dari hotel ini. Tapi Rani juga mikir, orang-orang yang nginep disini gak cape yah. Untuk sampai ke hotelnya kan mesti ngelewatin tanjakan sadis itu. Hem.

2018_0325_12015200(2).jpg

Foto dulu yuk bagus pemandangannya! (padahal engap nanjak)

2018_0325_12444900.jpg

Puncak bukit jalur aklimatisasi. Perjalanan masih 1.5 jam. Tertipu. Ku kira sudah sampai

2018_0325_14434600.jpg

Aklimatisasi selesaai

2018_0326_10191100.jpg

Eh lah kok mirip

Selesai aklimatisasi Rani langsung cus nikmatin suasana Namche. Desa ini juga disebut Namche Bazaar. Semua orang yang akan ke Everest Basecamp dan gunung lainnya emang akan transit disini. Ada juga yang tujuan akhirnya memang Namche. Tempat ini ramai dan super lengkap. Kita bisa nemuin berbagai barang outdoor dari semua merk! Bahkan North Face buka store disini! Pas liat store North Face aku langsung terpana gengs. Kok bisa dia ada disini haha. Seluruh barangnya dibawa pake helikopter tentu saja. Bayangin deh, 3440 MDPL itu tingginya mirip kaya Gunung Slamet ya kalau di Indonesia. Nah coba kalian andaikan di puncak Gunung Slamet ada fasilitas ini. Keren yak hahaha.

2018_0325_18052300.jpg

Boleh kaka jaketnya banyak pilihaan

screen-shot-2018-08-04-at-9-22-04-am.png

Suasana sore di Namche*

screen-shot-2018-08-04-at-9-22-28-am.png

Pernak pernik super banyak di Namche

Namche Bazaar udah jadi super populer. Desanya maju banget karena semua wisatawan dari berbagai belahan dunia hadir disini. Namche juga jadi desa terakhir yang menyediakan berbagai macam kenyamanan di sepanjang jalur pendakian. Jadi Rani mau menikmati peradaban ini sejenak. Next, perjalanan sudah memasuki pendakian yang sebenarnya. Kaya gimana tuh pendakian yang sebenarnya? Eits sabar dulu yah. Sampai ketemu di part selanjutnya!

Patricia Ranieta pamit! Stay awesome fellas!

 

11 thoughts on “BERJUMPA DENGAN HIMALAYA (PART 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s