MENCICIPI ULAT TERPAHIT DI MUKA BUMI

Belum lama ini Rani lihat ada billboard super besar di pinggir jalan. Billboard itu mempromosikan sebuah aplikasi yang bisa membuat kita gak repot pergi ke rumah sakit kalau badan kita gak sehat. Kita bisa konsultasi via online sama dokternya! Canggih beneer yee. Tapi semua kemewahan itu cuma bisa dinikmati sama masyarakat ibu kota aja. Kalau di pedalaman? Wah boro-boro deh. Untuk obat, banyak dari mereka yang masih mengandalkan apa yang alam sediakan. Ilmunya diturunkan dari generasi ke generasi, mulai dari tumbuhan sampai binatang. Rani berkesempatan nyobain salah satu satunya. Bisa dibilang ini salah satu obat yang paling ajaib! Namanya KELATANG. Apa itu? Salah satu jenis ulat geennggss.

 

DSCF9212

Itu dia ulat kelatang di tanganku

Rani nemuin kelatang waktu liputan di Long Umung, Kalimantan Utara. Ulat ini gemas banget kalau dari segi bentuk. Warnanya merah merona dan badannya bulat-bulat. Gerakannya uget uget. Semoga kalian paham apa yang aku maksud dengan uget uget. Hahaha. Kelatang cuma bisa ditemui di pohon uberba. Nyarinya susah sekaliii, untung ada salah satu warga yang memang sengaja pelihara ulat kelatang ini. Iya gengs bapak ini pelihara ulat! Unik sekali yee. Yang dilakukan beliau adalah menanam pohon uberba di kebunnya terus seiring berjalannya waktu ulat kelatang pun hadir menyapa “hai pak, anakmu datang”. Mantap.

Screen Shot 2018-07-13 at 9.06.47 AM

Salah satu batang lapuk tempat kelatang tinggal*

Pohon uberba emang jadi tempat tinggal favorit kelatang karena pohon ini hampir selalu dalam keadaan basah. Salah satu ciri-ciri kehadiran kelatang di pohon itu adalah banyak kotoran yang jatuh di sekitar batang. Rani sama bapak pun dengan rasa percaya diri yang tak tertandingi membelah batangnya. Isinya? Bikin aku terkejuuttt! Satu keluarga kelatang ternyata hadir disana, mulai dari kakek, nenek, ibu, ayah, tante dan om. Makin besar ukurannya, makin merah warnanya. Uget uget ugeet. Mereka beraktivitas di lubang-lubang kayu yang sudah lapuk.

DSCF9188

Tampilan waktu batang dibelah jadi dua. Ulat dimana mana

Kelatang juga ajaib banget. Di dalam tubuhnya yang sangat berisi, ulat ini punya dua empedu. Wah buanget kaan. Nah pertamanya Rani pikir empedu kelatang seperti empedu pada umumnya yang punya warna hijau kehitaman. Tapi ternyata empedu kelatang warnanya bening berkilau seperti tetes air mata gengs (jangan langsung mellow yah) dan empedu kelatang jumlahnya ada dua! Empedu inilah yang dipercaya sama masyarakat Dayak Lundayeh punya banyak manfaat. Kalau punya luka tinggal diolesin aja, mulai dari luka tergores sampai luka bakar. Bisaaa. Di kalangan ulat, kelatang ini seperti dokter. Bahkan kelatang dipercaya bisa menyembuhkan kanker.

DSCF9232

Nah itu dia empedu kelatang. Bening kaan

Sekarang kita sampai ke bagian yang paling fantastis. Biasanya masyarakat Dayak Lundayeh makan kelatang hidup-hidup! Yaaps seperti dugaan kalian, Rani pun harus makan kelatang hidup-hidup juga. Oh iya, Rani belum kasihtau kalian kalau aroma ulat kelatang ini benar-benar “nikmat”. Baunya tuh tajam menusuk hidung dan bakalan nempel awet di tangan kamu kalau kamu pegang. Rani berusaha mengulur waktu sebelum makan kelatang. Dalam hati aku mempersiapkan mental dan pikiran gengs untuk makan ulat ini hidup-hidup. Tapi tuntutan pekerjaan membuatku harus melakukannya. Oh, ini semua kulakukan agar aku bisa membayar berbagai macam tagihan yang menggunung dan menungguku di ibu kota. Hiks.

DSCF9190

Waktu berusaha mengulur waktu sebelum makan. hahaha

dscf9211.jpg

Ini cameramanku. Nggak gengs dia gak makan. Cuma belaga makan aje huft

1…2…3 RANI MAKAN ULAT KELATANGNYAAA!!!! Sejujurnya Rani memang sering makan hal yang aneh-aneh. Cacing, ulat, biawak, tokek, tikus pernah Rani cicipi rasanya (kapan-kapan Rani bikin tulisannya ya). Tapi jujur aja rasa kelatang ini yang gak akan pernah Rani lupain seumur hidup. Begitu Rani gigit, seluruh cairan yang ada di dalam ulat itu pecah di mulutku. Pyaarr satu mulut Rani dipenuhi dengan bau kelatang yang ajaib dan rasa pahit. Aaaa sepahit itu! Rani gak pernah ngerasain sesuatu yang level pahitnya menyamai kelatang. Badanku gak sanggup untuk menelan kelatang gengs. Setiap Rani berusaha untuk telen, saat itu juga tenggorokkanku berkata tidak mau. Kata tenggorokkan yang dia inginkan adalah daging sapi dan ketupat sayur.

Ekspresi sebelum makan-makan-mencoba mencerna-gak sanggup nelen-muntah*

Kerennya empedu kelatang ini banyak dicari loh! Satu botol kecil cairan empedunya, dijual dengan harga Rp 500.000,-. Kalau dibawa ke perbatasan Malaysia, empedu kelatang ini jadi rebutan. Khasiatnya sudah terbukti bagi masyarakat disana. Selesai makan kelatang Rani pun pulang ke penginapan dengan hati bangga karena ngerasa udah sama kaya masyarakat lokal. Sampai penginapan Rani cerita sama salah satu warga lokal kalau Rani makan kelatang. Tahu gak reaksinya apa? Dia bilang “Ha? Kamu makan kelatang??? Duuhh kalau saya sih tidak mau. Nanti kalau saya sakit mau mati baru deh saya mau makan kelatang itu biar tidak jadi mati”. Hatiku patah berkeping keping karena ternyata gak semua masyarakat berani makan kelatang. Ternyata aku dibohongin soal semua orang pasti makan kelatang HUAAAAAAAAA.

DSCF9223

Kelatang yang sudah dikumpulkan

DSCF9256

Empedu kelatang yang mahal

Ngomongin soal kelatang ngebuat Rani jadi mikir dan ingat. Sesuatu yang gak enak kadang bisa berdampak baik sama kita. Kaya kelatang yang rasanya pahit tapi ternyata kaya manfaat.  Yah mungkin begitu juga dengan kita dalam berbagai macam kondisi. Rasa pahitnya harus kita alami dan rasain sendiri dulu, baru deh setelah menuai manfaatnya kita akan nengok ke belakang dan bersyukur. Kalau gak ada pahit kita gak akan tahu apa itu manis. Jadi mari kita hadapi, nikmati dan syukuri.

Patricia Ranieta pamit! Stay awesome fellas!

(*): courtesy of Trans 7

2 thoughts on “MENCICIPI ULAT TERPAHIT DI MUKA BUMI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s