BERTUALANG KE MALAYSIA DENGAN PASPOR MERAH

Bertualang ke perbatasan udah jadi hal yang Rani tunggu-tunggu sejak lama. Kalau liat peta, Rani selalu penasaran, gimana sih kehidupan masyarakat Indonesia di perbatasan? Nah, awal Januari 2018 kemarin Rani berkesempatan untuk trip ke perbatasan Indonesia – Malaysia via Kalimantan Utara. Rani ingetnya sambil senyum-senyum sendiri macam lagi kasmaran hahaha. Yuk ah dimulai ceritanya hihi

Rani pergi ke Malaysia via Krayan, tepatnya dari Desa Long Midang yang merupakan desa terakhir sebelum Malaysia. Mobilitas WNI yang pergi ke Malaysia memang cukup tinggi. Dalam waktu sebulan mereka bisa 3-5 kali pergi ke Negeri Jiran. Jarak tempuh yang hanya 1 jam dari desa terakhir jadi salah satu alasannya. Jadi gak heran deh, kalau di Krayan 80% produk yang beredar adalah produk-produk dari Malaysia. Rani sejujurnya menyesal waktu itu gak buka jastip hahahha.

DSCF9516

Long Midang, desa terakhir sebelum Malaysia

Untuk bisa pergi ke Malaysia dari perbatasan, Rani harus buat PLB (Pas Lintas Batas) di kantor imigrasi pusat di Krayan, karena paspor hijau yang kita punya ga berlaku disini. Singkat cerita, datanglah Rani dan tim ke kantor imigrasi dengan semua persyaratan pembuatan PLB yaitu surat rekomendasi dari kelurahan setempat dan fotocopy KTP. Foto untuk PLB juga dilakukan di kantor imigrasi. Beda sama kantor imigrasi di Jakarta, kalau disini Rani bisa ulang foto kalau fotonya jelek hahaha, tetep yee perempuan.

DSCF9508

Foto untuk PLB di imigrasi Krayan, senangnya bisa tetep pake bandana haha

Sesi wawancara juga wajib dilakuan. Rani ditanya soal keperluan Rani pergi ke Malaysia dan lain sebagainya. Gak butuh waktu lama PLB Rani sudah jadi dan bisa diambil hari itu juga! Voilaaa! Rani super senang! ternyata bentuk PLB disini persis banget kaya paspor, cuma warnanya merah. Hari itu Rani ngerasa jadi anak paling gaul se Indonesia. Rasanya pengen pulang ke kampung di Bekasi terus abis itu cerita ke tetangga sama dede Rani di rumah hahaha. Biar lebih keren jadilah Rani nyebut PLB dengan sebutan paspor merah. Paspor ini cuma bisa digunakan untuk pergi ke Malaysia via Krayan yaa. Jadi kalau mau pergi ke Malaysia via daerah lain, ya harus bikin PLB baru.

DSCF9541

Nah ini dia bentuk PLB nya. Mirip banget paspor ya

Perjalanan Rani ke Malaysia dimulai! Rani sebenernya ikut sama salah satu warga yang mau menjual garam gunung olahannya (untuk garam gunung nanti akan Rani buat tulisannya sendiri yaa). Pemandangan sawah hijau dan padi yang tinggi khas Krayan jadi pemandangan apik di sepanjang perjalanan. Namun, seperti banyak daerah lainnya di Indonesia, infrastruktur jalan masih belum begitu baik. Masih banyak jalan berlubang, kalau sedang musim hujan pasti jadi lebih sulit untuk lewat.

DSCF9528

Kondisi jalan menuju perbatasan

DSCF9594

Padi di Krayan tingginya bisa sampai 2 meter!

Rani berhenti sejenak di pos pemeriksaan pertama. Ada dua tentara gabungan di pos ini, yaitu tentara Indonesia dan tentara Malaysia. Untuk tentara Indonesia nya sendiri, rata-rata mereka berasal dari Pulau Jawa. Entah kenapa selain seragamnya yang emang beda, postur badan tentaranya juga beda banget. Tentara Indonesia punya postur tubuh yang lebih tegap dan sigap gitu (baiklah ini penilaianku semata saja hahaha). Di pos ini paspor merah kita di cek dan dilihat apakah kita udah dapat izin untuk masuk ke wilayah Malaysia.

DSCF9536

Pos pemeriksaan pertama. Sebelah kiri tentara Malaysia, yang kanan adalah TNI

DSCF9534

Dua bendera berkibar

DSCF9547

Rani menghabiskan waktu cukup lama buat foto-foto disini hahaha

Tidak jauh dari pos pemeriksaan pertama, ada pos pemeriksaan selanjutnya. Disini semuanya sudah tentara Malaysia. Setengah jam setelah melewati pos pemeriksaan kedua, sampailah Rani di patok batas antara Indonesia dan Malaysia. Pandangan Rani langsung menuju ke kondisi jalan, masuk ke wilayah Malaysia jalannya sudah full aspal semuanyaa. Meskipun masih di pulau yang sama, tapi suasananya udah beda banget menurut Rani, infrastruktur di wilayah perbatasan Malaysia sudah jauh lebih baik dan rapi, padahal sama-sama wilayah perbatasan looh. Pemandangannya juga berbeda, rumput hijau jadi hal yang mendominasi di sepanjang perjalanan.

DSCF9569

Pos pemeriksaan kedua

DSCF9559

Patok batas Indonesia – Malaysia

DSCF9571

Memasuki Wilayah Malaysia

DSCF9575

Desa tujuan Rani di Malaysia namanya Ba’kelalan

DSCF9578

Kondisi jalan di Malaysia

Melihat kondisi yang berbeda diantara kedua negara, Rani pengen ajak kalian untuk berandai andai. Anggaplah Kalimantan adalah sekolah. Indonesia dan Malaysia adalah kamu dan orang lain. Kalian belajar di sekolah yang sama, belajar dari guru yang sama dan ngerjain tugas yang sama. Poin plusnya kamu punya potensi yang jauh lebih besar dibanding orang lain. Tapi, orang itu dengan potensi yang biasa aja mau untuk belajar lebih keras dan tekun. Pada akhirnya dia jadi lebih sukses dan maju dibandingkan kamu. Kalau kondisinya udah jadi seperti ini, banyak dari kita yang akhirnya nyalahin keadaan atau orang lain. Dibanding memperbaiki kualitas diri dan berusaha, kita malah sibuk bersembunyi dibalik kejayaan potensi yang kita miliki. Kita terlalu sombong, gak mau untuk introspeksi diri dan berusaha lebih. Teman-teman potensi yang kita punya hanyalah salah satu penunjang kesuksesan yang Tuhan titipkan. Tanpa usaha dan perilaku yang baik, kita gak akan pernah bergerak naik.

Patricia Ranieta pamit! Stay awesome fellas!

31 thoughts on “BERTUALANG KE MALAYSIA DENGAN PASPOR MERAH

  1. Cerita yg menginspirasi semoga perbatasan Indonesia Malaysia tetap terjaga dengan baik dan lebih baik lagi jika infrastruktur Indonesia diperbaiki. Amin

    Like

    1. Bisa pakai dua mata uang. Ringgit dan rupiah.. cuma kalau ringgit lebih banyak dpakai untuk belanja sembako di perbatasan. Kadang di tabung krna tukarannya kan kadang naik dan turun. Gitu hehe

      Liked by 1 person

  2. Terinspirasi banget dari tulisan2 kak rani. Buat aku semangat pengen belajar menulis. Mulai dr ngikutin ig nya, merhatiin cara bicaranya, ya pokoknya panutanku banget deh, sang motivator jd aku semangat dgn kejuruan yg ku ambil jurnalistik hehe

    Like

    1. Mereka hidup damai2 sekalii, saling ngobrol, saling berbagi cerita juga. Karena sinyal juga gak ad disana. Biasanya untuk TNI bisa ditugaskan sampai kurang lebih setahuun. Tapi ad beberapa rumah yg punya tv parabola, kadang bisa ntn tv juga deh hehe

      Like

  3. Ngefens banget sama kak ranii😘.suka gayanya pakek bandana heheh😊. Ceritanya bagus sekaliπŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘

    Like

  4. Hello kaka cia yang keren dan cantik.. Suka banget liat kaka kalo lagi ngehost.. Wah nikmat sekali yah.. Salam kenal dari sachi ka

    Like

  5. Hahaha. Keingat deh. Pas Lintas Batas udah bertumpuk di rumah d krayan. Karena masa berlaku cuma sebulan kalau ngak salah. Saya lupa. Gak ribet sih kalau ke malaysia nya. Askar @ TNI di perbatasan rata2 orang luar krayan tp pada baik2 aja dan sangat dmudahkan, ramah dan suka bercanda. Hehe. Begitupun dr askar malaysia nya Krn mgkn perbatasan indo malaysia warganya punya bahasa yang sama dan bahkan sukunya sama.. so thanks sdh berbagi lagi untuk petualangannya di daerah saya krayan kalimantan utara. Terus menginspirasi rani. Gbu

    Like

  6. Kakak cantik masih inget aku enggak. Aku ngefans banget sama kak rani. Sehat selalu kak rani semoga kita bisa bisa berjumpa lagi 😍😎

    Like

  7. Terimakasih untuk informasinya, baru tau juga kalau ada peraturan kaya gitu, sungguh dua pelajar yg berbeda keadaan yg sama2 dalam satu sekolah, infrastruktur yg berbeda dan keadaan ugm berbeda pula.
    Horaas…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s